Ramadhan bagaikan tamu yang pasti datang setiap tahunnya, hanya kitanya saja yang tidak pasti. Maka suka atau tidak, rela atau benci, sadar atau lalai, pasti akan berlalu. Semoga Allah pertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan di tahun depan, aamiin.
Kini kita telah resmi menjadi alumni Madrasah Ramadhan 1446 H. Kita dibina satu bulan penuh dan diharapkan menjadi pribadi yang bertakwa sepanjang masa, bukan hanya pada Ramadhan saja, tetapi bertakwa di mana pun dan sampai kapan pun.
Sebagai alumni yang baik, kesuksesan Ramadhan akan terpancar ketika kita bisa istiqomah setelahnya. Artinya harus konsisten dalam menjalankan amal ibadah di luar bulan Ramadhan. Jangan sampai kita hanya mengenal Allah pada saat Ramadhan saja. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’arif halaman 222 menyampaikan:
بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا
Artinya: “Seburuk-buruk kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang saleh yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.”
Mengutip dari kitab Asrar Al-Muhibin fi Ramadhan karya Syeikh Muhammad Husain Al-Mishri, beliau memberikan nasihat berkaitan dengan amaliah seorang muslim selepas Ramadhan. Beliau memulai nasihatnya dengan sebuah kisah singkat dari kitab Sirah Nabawiyah karya Imam Ibnu Katsir jilid 3 halaman 61, yaitu ketika para sahabat berpisah dengan baginda Rasulullah.
Ketika itu semua sahabat menangis sedih, berduka, bahkan sebagian berputus asa seolah tak percaya bahwa mereka akan ditinggal oleh sang kekasih yaitu Rasulullah.
Saat keadaan semakin larut dalam kesedihan, sahabat mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri tegak seraya berkata:
أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ
Artinya: “Wahai manusia! Barangsiapa diantara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah Muhammad telah meninggal dunia dan barangsiapa yang menyembah Allah, ketahuilah sesungguhnya Allah itu hidup selamanya tidak akan mati.”
Bukankah Allah yang kita sembah pada bulan Ramadhan adalah Allah juga yang yang kita sembah pada bulan-bulan lainnya?
Bukankah seharusnya puasa kita selama satu bulan penuh itu memberikan pengaruh kebaikan setelah bulan ini berlalu?
Lalu setelah itu semua, apakah kita hanya diperintah untuk bertakwa hanya sebatas pada bulan Ramadhan saja?
Tentunya tidak! Bertakwa kepada Allah harusnya sepanjang masa hingga ajal tiba. Mari kita ingat pesan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr ayat 99:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.”
Puasa tidak akan berakhir, Al-Qur’an tidak akan pergi, masjid-masjid tidak akan tutup, ijabah doa tidak akan berhenti, dan pahala tidak akan terputus.
Beribadahlah kepada Allah sampai datang kematian. Jadilah orang yang setiap saatnya beribadah, bukan orang yang beribadahnya hanya di bulan Ramadhan.
Mari kita menjadi hamba Allah, bukan menjadi hamba Ramadhan. Mari tetap bertakwa dan beribadah kepada-Nya kapanpun dan di manapun. Ittaqillah haitsuma kunta!
تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال
كل عام ونحن إلى الله أقرب
Wallahu a’lam bis-showab
Oleh: Aryan Andika